Sigi, Caralain.id – Pekerjaan pengecoran rabat beton bahu jalan di ruas Lolu–Kabobona, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, kembali menuai sorotan. Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah tahapan pekerjaan diduga belum memenuhi standar teknis konstruksi.
Proyek peningkatan ruas jalan sepanjang 3,020 kilometer yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai lebih dari Rp7 miliar itu berada di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Sigi dan dikerjakan oleh PT Orion Mandiri.
Berdasarkan pantauan di lapangan menunjukkan tanah dasar pada area yang akan dicor belum tampak dipadatkan secara optimal. Padahal, pemadatan tanah dasar (subgrade) merupakan tahapan penting dalam pekerjaan rabat beton untuk memastikan konstruksi bahu jalan memiliki daya dukung yang memadai dan tidak mudah mengalami penurunan atau amblas.
Bahkan untuk lembaran plastik yang digunakan sebagai lapisan pemisah antara tanah dasar dan rabat beton juga menimbulkan pertanyaan. Secara visual, material yang digunakan diduga bukan lembaran plastik polietilena (PE) sebagaimana lazim dipersyaratkan dalam spesifikasi teknis pekerjaan rabat beton. Sekilas plastik tampak bening dan tipis, menyerupai plastik lembaran yang umum digunakan sebagai penutup atau kemasan.
Plastik tersebut tidak tampak seperti lembaran PE khusus untuk pekerjaan konstruksi yang umumnya memiliki ketebalan tertentu (misalnya sekitar 0,125–0,20 mm atau sesuai spesifikasi proyek), lebih kuat, dan dipasang membentang secara utuh di bawah area pengecoran.
Ironisnya lagi, hanya dipasang pada beberapa titik (spot per spot), sehingga sebagian besar area rabat beton tidak memperoleh lapisan pemisah tersebut.
Padahal secara teknis, lapisan plastik berfungsi mencegah air semen meresap ke tanah selama proses pengecoran. Jika pemasangannya tidak dilakukan secara penuh sesuai spesifikasi, air semen berpotensi terserap ke tanah sehingga proses hidrasi beton menjadi kurang optimal. Kondisi tersebut dapat memengaruhi mutu beton, meningkatkan risiko retak dini, serta mengurangi umur layanan konstruksi.
Selain itu, sambungan antara lapisan aspal eksisting dan rabat beton juga tampak kurang rapi. Tidak terlihat adanya material pengunci maupun penyegel sambungan (joint sealant) yang berfungsi mencegah masuknya air ke celah pertemuan kedua konstruksi.
Jika dibiarkan tanpa perlindungan sesuai spesifikasi, air hujan berpotensi masuk ke dalam celah, mengikis lapisan pondasi, dan mempercepat kerusakan perkerasan di sepanjang ruas jalan.
Sebelumnya, pekerjaan yang sama juga sempat menjadi sorotan setelah ditemukan indikasi penggunaan material timbunan bahu jalan yang diduga tidak sesuai spesifikasi teknis.
Di sejumlah titik bahu jalan material timbunan yang digunakan bukan berupa urugan pilihan (urpil), melainkan didominasi batu berukuran besar dengan dimensi melebihi 10 sentimeter. Material tersebut diduga tidak memenuhi gradasi yang umumnya dipersyaratkan dalam pekerjaan konstruksi jalan.
Selain itu, kondisi timbunan bahu jalan juga tampak tidak merata. Pada beberapa bagian bahkan ditemukan area yang belum terisi timbunan, sehingga menimbulkan perbedaan elevasi yang cukup signifikan antara badan jalan dan bahu jalan. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas bahu jalan.
Hingga berita ini publish, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait tentang temuan tersebut. Redaksi masih berupaya menghubungi pihak-pihak terkait untuk memperoleh klarifikasi dan tanggapan sebagai bagian dari prinsip keberimbangan pemberitaan.













