Poin Utama
- Proyek Rp62,4 miliar Jalan Palu-Kulawi memicu keluhan warga.
- Jembatan akses rumah dan usaha dibongkar akibat pelebaran bahu jalan.
- Pengganti U-ditch dinilai belum memulihkan akses kendaraan warga.
- Saluran yang masih terbuka dikhawatirkan mengganggu akses dan keselamatan warga.
- PT Sapta Unggul dan pengawas proyek perlu menjelaskan desain serta penyelesaian akses warga.
Sigi, Caralain.id – Proyek Rekonstruksi Jalan Palu-Kulawi di Kabupaten Sigi, yang diharapkan memperbaiki konektivitas dan kondisi infrastruktur jalan, justru memunculkan keluhan dari warga di sepanjang lokasi pekerjaan.
Warga Desa Kalukubula, Kecamatan Sigi Biromaru, dan Desa Kabobona, Kecamatan Dolo, mempersoalkan dampak pekerjaan pelebaran bahu jalan terhadap jembatan-jembatan kecil yang selama ini menjadi akses keluar masuk rumah dan tempat usaha. Sejumlah jembatan warga dibongkar dalam proses pekerjaan, kemudian diganti dengan saluran beton U-ditch yang dilengkapi penutup beton.
Masalahnya, kondisi yang dikeluhkan warga, penutup tersebut belum terpasang secara menyeluruh sehingga masih terdapat bagian saluran yang terbuka di area yang menjadi jalur aktivitas masyarakat.
Kondisi itu memunculkan dua persoalan sekaligus akses kendaraan warga terganggu termasuk aspek keselamatan dipertanyakan. Jika pekerjaan tersebut masih dalam tahap pelaksanaan, pertanyaannya adalah bagaimana pengamanan sementara disediakan agar saluran terbuka tidak membahayakan warga yang melintas?
Salah satu warga yang terdampak adalah Arifudin, pemilik toko kelontong di Desa Kabobona. Ia mengatakan jembatan di depan tokonya sebelumnya dibangun menggunakan cor dan besi dengan panjang sekitar 9 meter dan lebar 1,5 meter.
Bagi Arifudin, jembatan tersebut bukan sekadar akses menuju rumah. Jembatan digunakan kendaraan untuk keluar-masuk toko, termasuk ketika menaikkan dan menurunkan barang dagangan.
Setelah proyek pelebaran bahu jalan berjalan, jembatan tersebut dibongkar. Sebagai pengganti, pelaksana memasang U-ditch dan cover beton.
Arifudin menyebut baru dua cover U-ditch yang ditempatkan di depan tokonya. Dengan ukuran masing-masing sekitar 96–98 Cm lebar, 60 Cm panjang dan 10–15 Cm tebal, penutup tersebut dinilai belum mampu menggantikan fungsi jembatan sebelumnya sebagai akses kendaraan.
“Saya bangun jembatan pakai cor dan besi pak dengan panjang 9 meter dan lebar 1 meter setengah dan dibongkar. Sekarang dorang pakai tutup begini dan cuma dipasang 2 biji, bagaimana saya mau keluar masuk mobil. Saya sudah sampaikan ke pengawas, dia bilang memang cuma 2 biji saja. Bagaimana ini Sapta Unggul,?“ kata Arifudin kepada media ini, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya persoalan bukan hanya mengenai bentuk pengganti jembatan, melainkan fungsi akses setelah jembatan dibongkar.
Keluhan Arifudin tidak hanya menyangkut kenyamanan. Ia mempertanyakan bagaimana kendaraan dapat keluar masuk tokonya apabila saluran tidak ditutup secara menyeluruh.
Di lokasi, masih terdapat bagian saluran yang terbuka di antara atau di bawah cover U-ditch. Area tersebut berada pada jalur yang digunakan masyarakat untuk beraktivitas, jika tidak di pasang pengamanan bisa bahaya, terlebih saat pekerjaan sementara berjalan dan memang belum selesai.
Dilema serupa dirasakan Sarman, warga Kabobona yang sehari-hari bekerja sebagai sopir truk.
Ia tidak menolak proyek perbaikan dan pelebaran Jalan Palu-Kulawi. Sebaliknya, ia mengaku senang karena kondisi jalan diperbaiki.
Namun, manfaat proyek jalan tersebut menurutnya tidak seharusnya membuat akses warga menuju rumah menjadi persoalan baru.
“Saya senang dengan perbaikan jalan ini pak, cuma bagaimana dengan kami punya jembatan. Kalau bisa dipasang lagi lah,” ujar Sarman.
Proyek Rekonstruksi Jalan Palu-Kulawi sendiri bukan pekerjaan berskala kecil. Proyek tersebut memiliki nilai kontrak fantastis yakni Rp62.469.624.000 atau sekitar Rp62,4 miliar.Proyek ini bersumber dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Tahun Anggaran 2026.
PT Sapta Unggul ditunjuk sebagai pelaksana dengan masa pekerjaan 587 hari kalender sejak penandatanganan kontrak atau penerbitan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK). Karena menggunakan skema Multi Years Contract (MYC.
Sejumlah item pekerjaan meliputi perbaikan Lapis Pondasi Agregat (LPA) pada titik jalan yang mengalami kerusakan ringan, penanganan LPA full badan jalan, serta pekerjaan overlay pengaspalan menggunakan AC-WC.
Penanganan LPA full badan jalan antara lain berada pada Sta 0+000–0+350 dan Sta 0+700–1+350. Selain pekerjaan badan jalan, proyek juga mencakup pekerjaan struktur, pasangan batu talud dan saluran U-ditch.
Hingga berita ini tayang, pihak PT Sapta Unggul maupun pengawas proyek belum memberikan keterangan terkait keluhan warga tersebut.













