Poin Utama
Pantauan Tim media Caralain.id di lokasi memperlihatkan deretan dump truck memenuhi area SPBU, baik di dalam maupun di luar lokasi pengisian. Sejumlah kendaraan bahkan terlihat parkir di badan jalan sambil menunggu giliran mengisi solar bersubsidi. Aktivitas tersebut berlangsung hingga malam hari dengan dominasi kendaraan berat di area pengisian.
Situasi di lokasi juga menarik perhatian setiap masyarakat yang melintas karena sebagian area SPBU tampak memiliki pencahayaan yang lebih redup dibandingkan biasanya. Kondisi tersebut, menurut warga, membuat aktivitas pengisian tidak mudah dipantau dari luar sehingga memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat.
Seorang warga sekitar berinisial Hendly, mengaku fenomena antrean kendaraan berat tersebut bukan lagi hal baru. Menurutnya, kondisi serupa telah berlangsung cukup lama dan sudah sepatutnya mendapat perhatian dari pihak berwenang agar distribusi BBM bersubsidi tetap berjalan sesuai ketentuan.
“Kami tidak ingin sembarang menuduh pak. Tapi saya lihat koq macam aneh ini aktivitas di SPBU dan tidak sama dengan biasanya. Jujur pak, pemandangan antrian kendaraan berat ini terjadi hampir setiap malam. Harusnya ada pihak terkait lah untuk memastikan bahwa tidak ada penyimpangan dalam penyaluran BBM bersubsidi di Sarjo,” pinta Hendly.
Hendly menambahkan, masyarakat pada dasarnya hanya menginginkan penyaluran solar subsidi dilakukan secara transparan, tepat sasaran, dan dapat dinikmati oleh pihak-pihak yang memang berhak. Menurutnya, pengawasan yang optimal akan mencegah munculnya berbagai dugaan di tengah masyarakat.
Selain antrean kendaraan berat, warga lainnya juga mengaku beberapa kali melihat adanya dugaan pemindahan solar ke sebuah mobil tangki “berkepala biru” setelah proses pengisian di SPBU selesai dilakukan. Meski begitu, Tim media berupaya melakukan pendalaman serta konfirmasi dari pengelola SPBU maupun pihak lainnya terkait adanya dugaan tersebut sehingga tidak menimbulkan persepsi keliru di masyarakat Sarjo.
Dampak dari dugaan persoalan distribusi itu, menurut warga, mulai dirasakan oleh pengguna lain yang juga bergantung pada solar bersubsidi. Salah satunya dialami sopir ambulans yang mengaku beberapa kali tidak memperoleh solar karena stok di SPBU telah habis saat hendak melakukan pengisian.
“Kami datang untuk mengisi solar ambulans, tetapi petugas mengatakan stok sudah habis. Padahal kendaraan ini digunakan untuk pelayanan masyarakat dan keadaan darurat,” ujar sopir ambulans yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Bagi masyarakat, kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan pengguna kendaraan umum, tetapi juga berpotensi mengganggu layanan yang bersifat darurat. Karena itu, mereka berharap distribusi solar bersubsidi benar-benar diawasi agar kebutuhan masyarakat luas tetap menjadi prioritas.
Warga juga berharap aparat penegak hukum bersama instansi pengawas segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap aktivitas distribusi BBM bersubsidi di SPBU Sarjo. Langkah tersebut penting untuk memastikan seluruh proses penyaluran berlangsung sesuai aturan sekaligus memberikan kepastian kepada masyarakat.
Jika nantinya hasil pemeriksaan tidak menemukan adanya pelanggaran, masyarakat berharap informasi tersebut disampaikan secara terbuka sebagai bentuk transparansi. Sebaliknya, jika ditemukan indikasi penyimpangan, mereka meminta proses penegakan hukum dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.




