Proyek Irigasi Garapan PT Nindya Karya di Sigi Disorot Usai Temuan Retakan Saluran Tersier

Kabupaten Sigi18 Dilihat
banner 468x60

Poin Utama

  • Proyek peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi di Kabupaten Sigi kembali menjadi perhatian setelah warga menemukan kerusakan.
  • Warga melaporkan adanya retakan pada dinding dan lantai saluran irigasi tersier di Desa Kalukutinggu, Kecamatan Dolo Selatan.
  • Proyek ini merupakan bagian dari rehabilitasi irigasi di 9 kabupaten di Sulawesi Tengah, termasuk Sigi.
  • Dikerjakan oleh PT Nindya Karya dengan dana APBN, nilai kontrak mencapai Rp85,6 miliar.

Sigi, Caralain.id – Proyek peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi di Kabupaten Sigi, , kembali menuai sorotan publik setelah warga menemukan adanya retakan pada dinding saluran irigasi tersier di Desa Kalukutinggu, Kecamatan Dolo Selatan. Warga pun meminta pemerintah segera melakukan peninjauan ulang terhadap proyek yang dikerjakan oleh PT Nindya Karya tersebut.

banner 336x280

Temuan retakan itu dilaporkan warga dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut dinilai tidak wajar, mengingat proyek rehabilitasi irigasi tersebut baru sekira 3 bulan selesai dikerjakan. Retakan terlihat pada bagian dinding saluran dan lantai saluran irigasi, yang dikhawatirkan dapat memengaruhi fungsi irigasi dalam mengairi lahan pertanian.

Salah seorang warga setempat, Wahid menyebutkan bahwa kerusakan awal seperti retakan bisa berdampak lebih besar jika tidak segera ditangani. Ia berharap pihak terkait segera turun ke lapangan untuk mengecek kondisi sebenarnya.

”Dari awal kami lihat sepertinya tidak lama umur saluran ini pak. Kami duga material yang digunakan tidak sesuai spesifikasi teknis, padahal baru tiga bulan selesai dikerjakan,” ujarnya kepada media ini Senin,(4/5/2026).

Proyek rehabilitasi jaringan irigasi tersebut merupakan bagian dari upaya peningkatan infrastruktur pertanian guna mendukung produktivitas petani di wilayah Dolo Selatan. Namun dengan munculnya temuan ini, warga mempertanyakan kualitas pengerjaan proyek.

Sementara itu, seorang petani setempat, Aswahyudi, mengaku khawatir dengan kondisi saluran irigasi yang mulai mengalami kerusakan.

 

Menurutnya, lantai saluran irigasi di sejumlah titik juga telah terkikis oleh aliran air, yang mengindikasikan adanya awal kerusakan fisik yang cukup serius. Ia menduga kondisi tersebut disebabkan oleh material dasar saluran yang kurang kuat atau tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.

”Itu di beberapa tempat di bawah sana pak lantainya sudah terkikis air dan sudah kelihatan tanahnya. Kalau begini air di saluran bisa bocor. Kalau tidak segera ditangani, penyaluran air ke petani jadi tidak efisien dan otomatis berdampak langsung pada hasil pertanian kami,” ujar Aswahyudi.

Untuk diketahui, saluran irigasi ini merupakan bagian dari proyek peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi di sembilan kabupaten di Sulawesi Tengah, termasuk Kabupaten Sigi. Proyek tersebut telah diselesaikan pada 31 Desember 2025 sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas pertanian.

Pekerjaan konstruksi proyek dilakukan oleh PT Nindya Karya (NK) dengan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dengan nilai kontrak mencapai Rp85.667.397.000.

Program ini merupakan implementasi dari Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan infrastruktur ketahanan pangan. Namun, munculnya kerusakan dalam waktu singkat menimbulkan pertanyaan terkait kualitas pekerjaan dan pengawasan proyek.

Warga mendesak pemerintah daerah maupun instansi teknis terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk meninjau kembali spesifikasi teknis dan pelaksanaan di lapangan. Selain itu, mereka juga meminta adanya transparansi dari pihak pelaksana proyek.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PT Nindya Karya maupun pemerintah terkait mengenai temuan retakan tersebut. Warga berharap segera ada tindak lanjut agar fungsi irigasi tetap optimal dan tidak merugikan petani setempat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *