Proyek Jalan DAK Rp7 Miliar di Sigi Disorot, Rabat Bahu Jalan Diduga Dikerjakan Asal Jadi

Kabupaten Sigi22 Dilihat
banner 468x60

Poin Utama

  • Proyek jalan DAK Rp7 miliar di Lolu–Kabobona, Sigi, disorot karena kualitas rabat bahu dinilai kurang rapi.
  • Hasil pekerjaan terlihat tidak presisi, terutama pada aspek kelurusan (alignment), lebar bahu yang berubah-ubah, serta elevasi bahu jalan yang tampak menurun di sejumlah titik.
  • Penggunaan bekisting bilah papan bekas saat pengecoran rabat beton memengaruhi kerapian garis tepi dan keseragaman dimensi pekerjaan.
  • Proyek berada di bawah Dinas PUTR Kabupaten Sigi, bersumber dari DAK, dan dikerjakan oleh PT Orion Mandiri.

 

banner 336x280

Sigi, Caralain.id – Kualitas pekerjaan rabat bahu jalan pada proyek peningkatan ruas jalan Lolu – Kabobona, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, kembali menuai sorotan warga. Hasil pekerjaan yang terlihat di lapangan jauh dari kesan presisi, dengan sejumlah bagian menunjukkan ketidakteraturan pada aspek kelurusan, dimensi, dan elevasi. Penghamparan cor semen rabat betonnya pun disinyalir juga bermutu rendah dan tidak sesuai standar konstruksi serta terkesan asal kerja.

Proyek peningkatan ruas jalan tersebut merupakan pekerjaan yang berada di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Sigi dengan sumber pendanaan Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai lebih dari Rp7 miliar dan dikerjakan oleh PT Orion Mandiri.

Dari hasil pengamatan visual di lokasi pekerjaan, aspek kelurusan (alignment) menjadi salah satu kelemahan yang paling terlihat. Tepi luar bahu beton tampak bergelombang dan tidak membentuk garis yang lurus maupun lengkung secara konsisten. Selain itu, lebar bahu jalan terlihat berubah-ubah di sepanjang ruas pekerjaan, sehingga hasil akhir tampak tidak seragam dan sangat tidak estetik. Bisa jadi, dalam prosesnya, pekerjaan pengecoran rabat bahu jalan ini tidak menggunakan  alat ukur seperti benang ukur, waterpass atau total station. Kondisi tersebut menimbulkan dugaan bahwa proses pengukuran dan pengendalian pekerjaan di lapangan tidak dilakukan secara maksimal.

Kepada media ini, Sarman, warga desa Kabobona, Rabu (14/7/2026), menyampaikan kekecewaannya terhadap hasil pekerjaan proyek yang dinilainya amburadul. Ia menilai, dengan nilai anggaran yang cukup besar, masyarakat seharusnya mendapatkan hasil pembangunan yang lebih berkualitas dan dikerjakan sesuai standar teknis yang berlaku.

“Seharusnya pekerjaan infrastruktur harus mengutamakan kualitas, bukan hanya mengejar penyelesaian fisik. Karena yang menggunakan jalan ini adalah kami masyarakat di sini,”ujarnya.

Selain persoalan kelurusan, metode pelaksanaan pengecoran rabat bahu jalan juga menjadi sorotan warga. Di lokasi pekerjaan terlihat bekisting yang digunakan hanya memanfaatkan bilah papan bekas sebagai pembatas cor. Imbas dari penggunaan material bekas dengan kondisi yang tidak seragam ini memengaruhi hasil akhir pengecoran, terutama pada kerapian garis tepi, kelurusan, serta keseragaman dimensi bahu jalan.

”Komiu lihat di sepanjang yang di cor itu, macam ular di pukul jadinya. Saya tidak persoalkan pakai  bekisting bekas atau baru, tetapi apakah hasil akhirnya memenuhi standar?. Kalau akibat bekisting tersebut garis pekerjaan menjadi tidak rapi dan dimensi berubah, maka itu harus menjadi bahan evaluasi. Ini mesti menjadi perhatian dari dinas PUTR Sigi,jangan cuma badiam le. Kalau kami selaku warga bersuara begini nanti bilangnya kenapa tidak koordinasi dulu,” tambahnya.

 

Tidak hanya itu, pada sejumlah titik terlihat adanya celah memanjang antara lapisan aspal dan rabat bahu beton. Bahkan beberapa bagian tampak mulai ditumbuhi rumput. Kondisi tersebut menunjukkan sambungan antara bahu beton dan badan jalan tidak rapat dan berpotensi menjadi jalur masuk air menuju lapisan bawah perkerasan.

Selain persoalan kelurusan dan elevasi, tahapan persiapan pekerjaan juga menjadi sorotan. Dari hasil pengamatan visual media ini di lapangan bulan Juni lalu, terlihat proses pemadatan tanah dasar (subgrade) sebelum dilakukan pengecoran rabat bahu jalan belum dilaksanakan secara optimal. Kondisi ini terlihat dari permukaan bahu yang saat ini mengalami penurunan di sejumlah titik setelah pekerjaan pengecoran dilakukan.

Sejumlah warga mempertanyakan mengenai kualitas pengawasan dan pengendalian mutu selama pelaksanaan proyek oleh dinas terkait. Sebab, pekerjaan bahu jalan tidak hanya dinilai dari hasil pengecoran, tetapi juga dari kesesuaian elevasi, kepadatan dasar, dimensi, serta ketepatan posisi terhadap badan jalan.

“Kami khawatir, kalau pekerjaan seperti ini dibiarkan, nanti setelah ada temuan baru dilakukan pembongkaran. Seharusnya dari awal pelaksana dan pengawas memastikan pekerjaan sudah sesuai standar, bukan menunggu muncul masalah terlebih dahulu,” tutup Sarman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *