Poin Utama Berita
- Warga Labota dan mahasiswa menggelar aksi di kawasan PT IMIP, Morowali, Rabu (12/8/2026).
- Massa memprotes dampak debu batu bara yang disebut berasal dari aktivitas jetty.
- Keluhan warga berlangsung sejak 2024 dan dinilai belum mendapat solusi konkret.
- Warga menuntut penanganan dan kompensasi bagi masyarakat yang mengaku terdampak.
- Aksi sempat memanas setelah massa dilarang memasuki kawasan vital perusahaan.
- Massa mendesak manajemen PT IMIP turun berdialog dan memberikan kepastian penyelesaian.
- Warga mengancam kembali menggelar aksi hingga tercapai kesepakatan dengan perusahaan.
- PT IMIP belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan massa.
Morowali, Caralain.id – Persoalan debu batu bara kembali memicu protes warga di kawasan industri Morowali. Puluhan warga Desa Labota, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, bersama mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat, mendatangi kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Rabu (12/8/2026), untuk menuntut kejelasan atas dampak aktivitas jetty yang mereka keluhkan sejak 2024.
Massa menilai paparan debu batu bara telah berdampak terhadap lingkungan permukiman warga. Mereka mendesak pihak perusahaan mengambil langkah konkret, termasuk memberikan penjelasan dan kepastian terkait penanganan serta tuntutan kompensasi bagi masyarakat yang mengaku terdampak.
Aksi yang berlangsung di sekitar kawasan industri tersebut sempat diwarnai ketegangan. Massa terlibat adu argumen dengan aparat setelah petugas melarang pendemo memasuki area vital perusahaan.
Dalam aksi tersebut, massa meminta manajemen PT IMIP hadir dan menemui warga untuk menjelaskan kondisi yang dikeluhkan masyarakat serta langkah penanganan yang telah dilakukan maupun yang akan ditempuh perusahaan.
Massa juga mempertanyakan belum adanya kepastian mengenai kompensasi bagi warga yang mengaku terdampak. Mereka meminta perusahaan tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi menghadirkan solusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Situasi di lokasi aksi sempat memanas ketika sejumlah pendemo berupaya mendekati area dalam kawasan industri. Aparat keamanan melarang massa memasuki kawasan vital perusahaan. Larangan tersebut kemudian memicu adu argumen antara pendemo dan petugas di lokasi.
Meski demikian, massa tetap menyampaikan tuntutannya melalui orasi. Perwakilan mahasiswa menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan akumulasi kekecewaan warga terhadap persoalan debu batu bara yang dinilai belum terselesaikan selama beberapa tahun terakhir.
“Kami datang ke sini karena persoalan debu batu bara ini sudah lama dirasakan warga. Dari 2024 sampai sekarang belum ada penyelesaian yang benar-benar jelas. Kami minta perusahaan melihat kondisi masyarakat dan memberikan kepastian, termasuk soal kompensasi bagi warga yang terdampak,” tegas salah seorang orator.
Menurut massa, penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan keterbukaan dari semua pihak. Warga berharap perusahaan bersedia membuka ruang dialog agar keluhan masyarakat dapat dibahas secara langsung dan menghasilkan kesepakatan.
Selain meminta penanganan terhadap dampak debu, warga juga mendesak adanya langkah pencegahan agar persoalan serupa tidak terus terjadi dan mengganggu kehidupan masyarakat di sekitar kawasan industri.
Salah seorang warga yang mengikuti aksi menegaskan masyarakat tidak akan berhenti menyuarakan tuntutan apabila belum ada kejelasan dari pihak perusahaan.
“Kita tidak mau persoalan ini terus berulang tanpa kejelasan. Kalau belum ada solusi dan kesepakatan yang jelas, kita akan kembali melakukan aksi sampai ada kata sepakat dengan pihak perusahaan,” ujarnya.
Aksi tersebut sekaligus menjadi desakan agar persoalan lingkungan di sekitar kawasan industri Morowali mendapat perhatian serius dan segera diselesaikan melalui mekanisme dialog serta langkah konkret.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari manajemen PT IMIP terkait tuntutan massa, termasuk tudingan mengenai dampak debu batu bara dari aktivitas jetty.













