Irigasi Tersier di Dolo Selatan dan Dolo Barat Retak di Sejumlah Titik, Baru Tiga Bulan Beroperasi

Kabupaten Sigi52 Dilihat
banner 468x60

Point Utama

  • Saluran irigasi tersier di Kecamatan Dolo Selatan dan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, mengalami kerusakan di sejumlah titik meski baru sekitar tiga bulan dimanfaatkan petani.
  • Irigasi ini  bagian dari proyek peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi di 9 kabupaten di Sulteng untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
  • Proyek ini dikerjakan oleh PT Nindya Karya (NK) dengan pendanaan APBN sebesar Rp85,67 miliar, sebagai implementasi Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan infrastruktur ketahanan pangan.

Sigi, Caralain.id  – Saluran irigasi tersier di wilayah Kecamatan Dolo Selatan dan Dolo Barat, Kabupaten Kabupaten Sigi, yang baru sekitar tiga bulan dimanfaatkan oleh petani, saat ini mengalami kerusakan di sejumlah titik.

banner 336x280

Saluran irigasi tersebut merupakan bagian dari proyek peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi di 9 kabupaten di Sulawesi Tengah yang telah selesai dikerjakan pada 31 Desember 2025 lalu. Proyek ini dilaksanakan dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas pertanian.

Untuk proyek peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi di 9 kabupaten di Sulawesi Tengah itu,pekerjaan konstruksi dilakukan oleh PT Nindya Karya (NK) dengan sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan nilai kontrak sebesar Rp85.667.397.000. Proyek ini merupakan implementasi dari Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan infrastruktur ketahanan pangan.

Secara keseluruhan, jaringan irigasi tersebut tersebar di sembilan kabupaten di Sulawesi Tengah, yakni Sigi, Donggala, Buol, Parigi Moutong, Poso, Toli-Toli, Morowali Utara, Banggai, dan Banggai Kepulauan. Di Kabupaten Sigi sendiri, fokus pekerjaan berada di wilayah Kecamatan Dolo Barat dan Dolo Selatan.

Saluran irigasi ini sebelumnya diharapkan mampu memperlancar distribusi air ke lahan pertanian, meningkatkan indeks pertanaman, serta mengairi ribuan hektare sawah milik petani.

Pantauan media ini Rabu,( 29/4/2026), terlihat adanya kerusakan di beberapa saluran tersebut baik dinding maupun lantai saluran. Beberapa bagian lantai saluran sudah retak bahkan ambles di beberapa titik, sementara dinding saluran mulai mengalami keretakan dan pengelupasan. Kerusakan seperti retakan pada saluran irigasi di duga akibat mutu pekerjaan yang tidak optimal, termasuk komposisi campuran semen dan pasir yang tidak sesuai standar atau kurang maksimal dalam proses pengerjaannya. Di bagian lainnya juga nampak daya rekat plesteran terkesan tidak kuat, sehingga tergerus air.

                                     

Enno, seorang petani di Dolo Barat, mengaku kecewa dengan kondisi tersebut karena kerusakan terjadi tidak lama setelah saluran mulai digunakan.

“Baru kurang lebih sekitar tiga bulan dinikmati, sudah ada bagian yang rusak. Ada yang di belokan atas itu pak yang di Kalukutinggu, plesterannya tidak bagus. Kami khawatir ini nantinya akan mengganggu aliran air ke sawahnya torang di sini,” ujarnya.

Tidak hanya Enno, seorang petani di Dolo Selatan, juga mengeluhkan kondisi serupa. Mereka menilai kerusakan yang muncul dalam waktu singkat berpotensi mengganggu aliran air ke sawah dan berdampak pada hasil panen.

“Banyak petani lain juga merasakan hal yang sama, air jadi tidak lancar di beberapa titik,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pihak pelaksana maupun instansi terkait mengenai penyebab kerusakan tersebut. Petani di Dolo Barat dan Dolo Selatan berharap ada perbaikan segera agar fungsi irigasi kembali optimal untuk mendukung aktivitas pertanian di wilayah tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *