PT Astra Agro Lestari Tbk Siapkan Langkah Strategis Replanting Ribuan Hektare Kebun

Bisnis13 Dilihat
banner 468x60

Poin Utama

  • Program ini dilakukan karena banyak tanaman sawit sudah menua dan produktivitas menurun.
  • Replanting mencakup sekitar 4% dari total kebun inti perusahaan.
  • Capex sebesar Rp1,4 triliun disiapkan untuk mendukung program tersebut.
  • AAL memiliki 208.063 hektare kebun inti (74%) dan 72.262 hektare kebun plasma (26%).
  • Sebaran kebun: 46% Kalimantan, 37% Sumatera, 17% Sulawesi.

Jakarta, Caralain.id – PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) menargetkan program penanaman kembali (replanting) seluas 8.000 hektare sepanjang tahun 2026 sebagai strategi utama untuk menjaga produktivitas kebun yang mulai menua.

banner 336x280

Presiden Direktur AAL, Djap Tet Fa, mengatakan usia tanaman sawit perusahaan saat ini sudah banyak yang memasuki fase penurunan produktivitas sehingga perlu dilakukan peremajaan secara bertahap di seluruh area kebun inti.

“Artinya ada kenaikan sekitar 4% dari total kebun inti yang direplanting. Ini dilakukan di seluruh area produktivitas,” ujarnya.

Untuk mendukung program tersebut, AAL mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,4 triliun pada 2026.

Struktur dan Sebaran Kebun

Hingga 2025, AAL memiliki kebun inti seluas 208.063 hektare atau sekitar 74% dari total kepemilikan lahan. Sisanya, 72.262 hektare (26%), merupakan kebun plasma.

Dari sisi sebaran wilayah, 46% kebun AAL berada di Kalimantan, 37% di Sumatera, dan 17% di Sulawesi.

Kinerja 2025 Menguat

PT Astra Agro Lestari Tbk juga mencatat kinerja positif pada 2025 dengan laba bersih mencapai Rp1,5 triliun, tumbuh 28% secara tahunan (YoY). Pendapatan perusahaan naik 31% menjadi Rp28,66 triliun, didorong peningkatan volume penjualan.

Volume penjualan CPO dan turunannya tercatat naik 13% menjadi 1,8 juta ton, di tengah fluktuasi harga minyak sawit mentah global.

Dengan program replanting yang agresif, AAL berharap dapat menjaga produktivitas jangka panjang sekaligus memperkuat kinerja di tengah dinamika industri sawit global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *